24 Februari 2017

Mengasah Pisau Ilmu

Kata bapak (Kanjeng Papih) tidak semua orang bisa mengasah pisau. Terbukti, di rumah tidak setiap anggotanya pandai melakukan. Hanya bapak, mas, dan aku. Sedang ibu (Kanjeng Mamih) sepertinya bisa meski kemampuannya sedikit di bawah kami. 😅 

21 Februari 2017

ROKOK


Kemarin ketika bapak hendak operasi di UGD RSIA Malang.

"Bapak ada sakit dada (jantung koroner) sudah berapa lama?"

(Enam belas tahun)

"Perokok ya, Pak? Satu hari habis satu bungkus?"

BAPER



A: "Semalem aku duluan yang istirahat, Kak!"

K: "Adik capek yaa?"

A: "Cape tidur seharian."

K: "Kok tidur seharian sih?"

A: "Banyak tidurnya, kan pengangguran ..."

K: "Adik nganggur? Kerja sana!"

A: "Cariin kerjaan ..."

K: "Kerja apa? Macul? Ngecet? Pasang pintu? Budidaya Jangkrik?"

A: "Aku bisa mencangkul, mencangkul hatinya lalu memendam namaku di dalamnya.

17 Maret 2016

Antara Surabaya-Malang

Masih sangat jelas terekam di dalam ingatan. Kemarin, aku melakukan perjalanan dari kota Surabaya menuju Malang dengan menggunakan jasa taksi berlogo mirip logo salah satu media  sosial. Bukan apa-apa, dua koper dan dua tas jinjing memaksaku untuk menggunakan jasa itu. Taksi berwarna langit yang aku tumpangi melaju dengan cukup kencang menuju Bandara Juanda untuk mengantar kakak perempuanku terlebih dahulu. Setelahnya, Kota Malang menjadi tujuan.

Sepanjang perjalanan, aku dan bapak sopir yang ramah itu berbincang.

"Anaknya berapa, Pak?" Aku memulai dengan pertanyaan sederhana. Dari perbincangan beliau dengan kakak perempuanku tadi, aku tahu beliau berasal dari Probolinggo, Jawa Timur.

"Satu, Mbak! Mbaknya ini ke Malang kuliah di mana?"

"Brawijaya, Fakultas Pertanian. Di Soseknya, Pak!" Jawabku mulai bersemangat. Jalan untuk berbincang dan mengambil ilmu dari beliau semakin terbuka.

"Baru masuk ya, Mbak?" Seperti kebanyakan orang mengira. Aku sedikit tertawa mendengar pertanyaan beliau.

"Saya sudah semester tujuh ini, Pak. Kalau bapak anaknya kelas berapa?" Pria yang perkiraan usia hampir setengah abad itu kaget dan melontarkan beberapa pertanyaan terkait topik tugas akhir kuliah yang akan aku teliti.

"Anak saya di UGM, Mbak. Pertanian juga, di Soseknya juga. Ga tau nanti kalau lulus gelarnya apa," cerita beliau.

"Waah ... sama, Pak. Jarang pulang berarti, nggih?"

"Iya, Mbak. Tapi gimana ya, saya kan dari tahun 1987 kerja nyopir. Tiga bulan sekali baru pulang. Jadi anak kurang deket. Kemarin SMS, tapi formal banget sama saya?" Bapak tersebut berhenti sejenak.

#1/Selamanya

Seperti tujuh tahun yang lalu, kelopakku serasa tertindih batu ketika menatap wajahmu yang teduh. Senyumku yang juga masih sipu kau anggap lucu.

"Adek ... kita ini uda resmi. Masa masih ga mau liat wajah suami?" Protesmu disertai tawa.

Kau berusaha menggenggam lembut jemari kurus yang sedikit kaku. 

"Aku belum terbiasa, Mas!" Jawabku sedikit menarik tangan dari genggamanmu. 

Aneh rasanya, berpegangan tangan dan menatap wajah jenis yang berlawanan. Posisi duduk kita juga masih sedikit berjauhan.

"Ini hari keempat kita resmi jadi pasangan, Adek. Sampai kapan ga mau ngeliat sama dideketin Mas?" Mendengarnya membuatku memandangmu lebih lama.

"Mas ... aku malu!" Aku yang kembali tertunduk kau rengkuh ke dalam pelukan. 

Tuhan! Pipiku memanas ...

*

#untukkaubaca

14 Maret 2016

~JRS

11 November 2015

Cinta dan Kasihku Layu

Selamat malam, Rindu ...
Aku ingin sedikit berbagi cerita denganmu. Begini:

Cinta dan Kasihku telah layu dari beberapa hari lalu. Aku menduga ini karena kemarau panjang yang telah melanda tanahku. Rindu, seperti yang kau tahu bahwa Cinta dan Kasihku sudah cukup sepuh. Akar-akarnya tak mampu menembus tanah yang semakin tandus, pertumbuhannya pun tak lagi berlanjut. Kekeringan beberapa bulan lalu menggugurkan dedaun Cinta dan Kasihku satu persatu. Menurutmu, apakah aku harus maklum?

10 November 2015

Benang Merah Tak Kasat Mata

Aku telah kauikat dengan benang merah tak kasat mata yang menjulur, keluar dari hatimu lalu masuk ke dalam hati dan menembus jiwaku. Semacam benang chakra; menyalurkan energi ke dalam tubuh.

Kau merasaku walau jauh. Pun begitu denganku. Kau masuk ke dalam mimpi besarku dan aku ialah bagian dari mimpi besarmu.

Kau merasaku melalui benang merah yang tak kasat mata. Merasa resah, gundah, sakit dan pedih di dalam hati juga tubuhku. Padamu, aku pun begitu. Benang itu lebih mudah menyalurkan energi kesedihan.

Mengasah Pisau Ilmu

Kata bapak (Kanjeng Papih) tidak semua orang bisa mengasah pisau. Terbukti, di rumah tidak setiap anggotanya pandai melakukan. Hanya bapa...