Kata bapak (Kanjeng Papih) tidak semua orang bisa mengasah pisau. Terbukti, di rumah tidak setiap anggotanya pandai melakukan. Hanya bapak, mas, dan aku. Sedang ibu (Kanjeng Mamih) sepertinya bisa meski kemampuannya sedikit di bawah kami. 😅
Tadi siang, ketika mengasah empat pisau yang ada di foto ini, aku merenungi apa yang beberapa tahun lalu beliau sampaikan perihal mengasah pisau.
Dan benar! Salah gesek sedikit atau salah dalam memposisikan pisau, maka bukan menjadikannya malah tumpul yang ada.
Seperti dalam mengaplikasikan ilmu yang dipunya. Salah niat, tidak baik juga apa yang akan di dapat.
Oh iya! Di antara empat pisau dapur ini, ada yang besar, dua sedang, dan satu kecil yang imut. Jika hanya dengan melihat, maka yang besar tampak lebih tajam. Sedang yang paling kecil adalah pisau manja yang mungkin hanya bisa dipakai untuk mengupas bawang merah.
Tampilan si kecil yang bergagang kombinasi abu dan hijau cerah itu tentu mendukung pernyataan sebelumnya.
Tetapi tidak! Justru yang paling imut itu ialah yang paling tajam di antara tiga lainnya. Bukan karena berbeda, tetapi karena lebih sering dipakai dan diasah. Sedang yang lebih besar darinya, tadi aku temukan sedikit berkarat di dalam lemari penyimpanan barang.
Ilmu pun begitu, tidak memandang besar kecilnya badan. Tua atau mudanya seseorang. Tetapi lebih kepada jam terbang pengaplikasian juga niat sebelum melakukan.
Maka jangan menilai hanya dengan tatapan mata. Tetapi gunakan kesemua panca indera.
Dan cobalah dulu!
Dan berikanlah kesempatan untuknya mencoba!
Lalu, kita bisa menilai pisau ilmu itu tajam atau masih tumpul. Jika tajam, terus gunakan. Jika masih tumpul, maka jangan dulu dibuang, bantulah mengasahnya!
*
NB:
Yang jelas para ibu pasti bisa dong ya ngasah pisau. Biasanya kan kalau ga ngasah dengan menggesek ke pisau lainnya, ulekan atau cobek batu yang jadi medianya. 😂😍
Malang, 23 Februari 2017
-JRS

Tidak ada komentar:
Posting Komentar