11 November 2015

Cinta dan Kasihku Layu

Selamat malam, Rindu ...
Aku ingin sedikit berbagi cerita denganmu. Begini:

Cinta dan Kasihku telah layu dari beberapa hari lalu. Aku menduga ini karena kemarau panjang yang telah melanda tanahku. Rindu, seperti yang kau tahu bahwa Cinta dan Kasihku sudah cukup sepuh. Akar-akarnya tak mampu menembus tanah yang semakin tandus, pertumbuhannya pun tak lagi berlanjut. Kekeringan beberapa bulan lalu menggugurkan dedaun Cinta dan Kasihku satu persatu. Menurutmu, apakah aku harus maklum?

10 November 2015

Benang Merah Tak Kasat Mata

Aku telah kauikat dengan benang merah tak kasat mata yang menjulur, keluar dari hatimu lalu masuk ke dalam hati dan menembus jiwaku. Semacam benang chakra; menyalurkan energi ke dalam tubuh.

Kau merasaku walau jauh. Pun begitu denganku. Kau masuk ke dalam mimpi besarku dan aku ialah bagian dari mimpi besarmu.

Kau merasaku melalui benang merah yang tak kasat mata. Merasa resah, gundah, sakit dan pedih di dalam hati juga tubuhku. Padamu, aku pun begitu. Benang itu lebih mudah menyalurkan energi kesedihan.

2 November 2015

Laut Mati

#DialogPingpong 
#Tipsmenghadapigombaler

A: "Adek lagi galau?" 

R: "Eh? Galau?" 

A: "Itu, status facebooknya galau mulu!" 

R: "Galau? Hanya perenungan aja, Kak. Hasil berbincang dengan nurani!" 

A: "Ciee ... lanjutkan, Dek. Keren hasilnya, bisa dibaca banyak orang. Sayangnya Kakak masih susah baca isi hati  penulisnya. Abis unyu banget sih!" 

R: "Namanya diupload pasti bisa dibaca banyak orang lah. Iya dong unyu!" 

Aku

Dalam hening hari tanpa sorak sorai para penyanyi. Kuterduduk di lantai sendiri, di gelap ruang tanpa mentari, tanpa lampu menyinari.

Dingin. Lantaiku tak beralas.

Pengap. Ruangku tak berpintu, tak jua berdaun jendela.

Suram. Kumeringkuk di sudut ruang. Memeluk lutut erat. Sangat erat.

"A ... aku takut!" rintihku lirih.

Gundukan Tanah yang Masih Basah

Awan hitam masih menggantung. Segerombolan angin yang datang dari arah Timur tampak kalut. Mereka berlari, terus berlari menabraki dinding, pohon, merebahkan ilalang dan menggugurkan bunga kamboja. Lalu terhempas di belahan bumi lainnya dan digantikan segerombolan angin dari arah yang tak berbeda. 

Ribut angin membawa butiran debu. Mencipta jelaga di dalam sepasang lubang dan menyumbatnya. Awan hitam yang masih menggantung memandangi keributan di bawah. Matanya terasa pedih. Mungkin kemasukan debu yang dibawa dan dilangitkan angin. Ia mengerjap; terus mengerjap. Perlahan mata indahnya berair. Bening, dingin , dan semakin banyak.

Tentang Jingga

Setelah beberapa waktu berlalu, Surya kembali  ke dalam dekap sang bunda. Wajahnya yang cerah, kini telah memerah. Sebab amarah juga rasa bersalah. Marah akan keputusan sepihak gadis yang masih dicintainya. Juga merasa bersalah sebab dia tak pernah ada saat kekasihnya sedang dirundung duka, merasa bersalah akan sikap acuh, dan penolakan orang tua akan gadis yang masih ingin diperjuangkannya. Surya tak menerima, tapi harus menerima, dan terpaksa menerima. Dia tak bisa, harus bisa, dan terpaksa bisa.

Gelap malam telah termakan cahaya putih penerang bumi. Fajar, lelaki yang merasakan pedihnya merelakan kekasih pergi malam tadi kini menekuri sepi dalam dekap hangat sinar mentari. Tak benar-benar sepi, hatinya bergemuruh, mengutuk diri karena keputusan dan sikapnya sendiri. Dia memaksa Lintang meninggalkannya dan gadis bermata sipit itu terpaksa kembali ke pelukan Grahana sang mantan kekasih. Fajar memaksa Lintang, Rembulan, dan seluruh kerabatnya berpelukkan dengan rasa benci. Lelaki itu tahu, harus tahu, dan terpaksa tahu. Lelaki itu rela, harus rela, dan terpaksa rela. Lintang, tak akan lagi kembali ke dalam dekap hangatnya.

Rapuh (Latepost)

Seperti hari-hari sebelumnya kala senja hendak menampakkan wujud ayu dirinya. Dinda beranjak dari kamar menuju tempat jemuran baju di lantai empat rumah kos yang kini menjadi rumah kedua baginya. Laptop, headset, dan handphone menjadi teman setia saat dia ingin menyendiri. Gadis yang selalu ceria di mata teman-temanya itu, kini terpuruk sepi. Termakan kelukaan hati karena keputusan yang ia putuskan sendiri. 

Dinda telah duduk bersila di atas balkon jemuran, menghadap tepat ke arah Barat. Membuka laptop dan memutar lagu kesayangan, sudah menjadi ritual yang tak terlewatkan ketika Dinda menunggu sang senja datang. Rapuh, karya grup band Indonesia, Padi. Band kesayangan, bukan karena personilnya yang ia kagumi melainkan lirik lagu yang mereka bawakan selalu menyentuh hati rupawan Dinda. Headset  yang tersambung dengan handphone hitam miliknya telah terpasang di kedua sisi telinga gadis itu dengan sempurna. Musikku - Favorit - Padi - Rapuh - Mainkan ....

----------


Mengasah Pisau Ilmu

Kata bapak (Kanjeng Papih) tidak semua orang bisa mengasah pisau. Terbukti, di rumah tidak setiap anggotanya pandai melakukan. Hanya bapa...