10 November 2015

Benang Merah Tak Kasat Mata

Aku telah kauikat dengan benang merah tak kasat mata yang menjulur, keluar dari hatimu lalu masuk ke dalam hati dan menembus jiwaku. Semacam benang chakra; menyalurkan energi ke dalam tubuh.

Kau merasaku walau jauh. Pun begitu denganku. Kau masuk ke dalam mimpi besarku dan aku ialah bagian dari mimpi besarmu.

Kau merasaku melalui benang merah yang tak kasat mata. Merasa resah, gundah, sakit dan pedih di dalam hati juga tubuhku. Padamu, aku pun begitu. Benang itu lebih mudah menyalurkan energi kesedihan.



Seperti beberapa malam lalu, saat kau datang ke dalam mimpiku. Kita berjuang bersama, merangkak dari dasar jurang menuju perkampungan. Dan kita berhasil sampai. Di perkampungan, kau dan aku disambut hangat olehnya. Seorang wanita. Dari dalam dadanya menjulur benang merah yang hanya aku, kau, dan dia yang dapat melihat.

Kita bertiga terhubung.
Kita bertiga saling merasa.
Walau jauh, walau tak ada kata.

Aku, kau, dan dia. Kini merasa hal yang sama, kegersangan tenaga. Dalam waktu yang sama di tempat yang berbeda.

Semoga benang merah yang coba kita julurkan kepada-Nya bersambut. Menyalurkan tenaga terutama untukmu dan dia ...

Malang, di Hari Pahlawan

*

Dari gadis yang akan selalu kecil untuk kedua pahlawan di rumah :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengasah Pisau Ilmu

Kata bapak (Kanjeng Papih) tidak semua orang bisa mengasah pisau. Terbukti, di rumah tidak setiap anggotanya pandai melakukan. Hanya bapa...