Seperti malam-malam sebelumnya,
Lintang keluar rumah, membeli makanan dengan seorang sahabat bernama Wulan.
Khusus malam ini ia tak hanya membeli makanan, melainkan hendak membeli rok
idaman yang telah terpajang di etalase toko seberang jalan. Ia mengenakan
kerudung berwarna hijau tua, jaket merah muda, dan rok biru tua- mencolok. Setelah
menuruni tangga penghubung antara lantai dua dengan lantai pertama mereka
berjalan beriringan, menundukkan pandangan menuju ATM di dekat Universitas
Islam Negeri yang terdapat di kotanya untuk mengambil rupiah.
Bias merah cahaya senja mulai menyapa, pengantar beribu Bintang kerlip di Angkasa / Satu Bintang tampak tak berkawan di sana, sendiri; sepi Mereka menganggap dia berbeda; tak sama// Bukan berbeda sebenarnya … Hanya saja, dia tampak lebih terang dari yang lainnya
12 Januari 2015
9 Januari 2015
Bapak!
Dering ponselku berbunyi dengan
lembut. Satu kata indah tersurat di tengah layar …
“Bapak”
Dengan sigap tanganku meraih ponsel
berwarna serupa arang yang tergeletak di atas ranjang. Tak rela beliau menunggu
terlalu lama untuk sekedar bersua suara dengan salah satu anak terkasihnya ini.
“Assalamualaikum, Pak,” jawabku
spontan seperti sebelum-sebelumnya. Dari seberang sana jelas terdengar hembusan
angin kampung dekat Gunung Semeru-Gunung tertinggi di pulau Jawa. Hembusan yang
selalu kurindukan.
“Waalaikumsalam Nduk, lapo sampean?
Wes maem?” Cecar Bapak dengan suara merdunya. Seketika bayang tampan wajah beliau
menghampiri, lengkap dengan beberapa kerut di kedua sudut mata.
“Niki mendel, Pak …, sampun, njenengan pun
dahar?” Jawaban umum yang selalu aku berikan, tentu saja tanpa rasa malas mengiring ataupun kebohongan.
“Uwes, Nduk! Sampean ojo telat maem
loh!” Kelegaan jelas tersirat dalam nada suara Bapak. Aku bisa membayangkan
betapa khawatirnya beliau jikalau aku menjawab belum. Takut jika kekebalan
tubuhku menurun. Jangan telat makan! Pesan itu selalu terucap setiap kita
bersua, baik melalui alat perantara, maupun bertatap muka. Aku harus ingat dan
jalankan jika tak ingin membuatnya gelisah!
“Nggih … Njenengan mpun sakit-sakit
Pak. Istirahat!” Bapak memang memiliki penyakit jantung koroner dan darah
tinggi semenjak 14 tahun lalu. Alhamdulillah! Saat ini beliau masih bisa
membersamai aku, ibu, dan kakakku. Menyaksikan kami anaknya semakin tinggi
menyaingi.
“Iyo, yowes lek ngunu.
Assalamualaikum.”
“Nggih Pak, waalaikumsalam.”
Percakapan yang tak pernah terlewat
antara aku dan Bapak. Sederhana, tak banyak pengucapan kata, tapi aku bisa
menangkap jelas kasih sayang, perhatian, dan kelegaan beliau mendengar jawabku.
Membahagiakannya tak butuh berjuta rupiah, tak harus dengan memberi mobil
mewah. Apalah artinya itu, jika secuil perhatian dan melakukan apa yang beliau
inginkan pun tak bisa? Toh itu demi kebaikanku. Ibu selalu berkata kepadaku …,
“Sampean kan pasti dadi wong sukses, Nduk! Wong tuwo iku ga butuh duik e sampean. Sing dijaluk wong tuwo teko sampean
iku sampean tetep manut, hormat nang Bapak karo Ibuk”
Malang, 07 Januari 2015
*JRS
Teramat Kecil!
Memandang langit selalu membuatku merasa teramat kecil
Memandang jauh ke depan dari ketinggian pun selalu membuatku
merasa teramat kecil
Itu sebabnya aku suka memandang langit, terlebih di kala
senja dan ketika malam penuh bintang tiba
Itu sebabnya aku suka melihat jauh ke depan dari
tempat-tempat tinggi walau kutakuti
Membuatku merasa teramat kecil untuk sekedar menyombongkan
diri ...
Malang, 08 Januari 2015
*JRS
Ajar Orang Tua
Dulu, aku belum bisa menulis pula membaca
Sebelum berada di bangku Taman
Kanak-kanak
Ibu telah mengajariku kedua hal itu,
suka rela
Aku masih terbata, mengeja kata demi
kata
Tapi Ibu tidak marah
Beliau memberi sebuah cerita untuk
kubaca
Ingin aku tuk terus belajar dan mencoba
Dan akhirnya, aku pun bisa
Dulu, aku belum bisa mengendarai
sepeda
Bapak memberiku sepeda roda tiga,
agar aku mencoba
Tapi tetap, aku belum bisa
menyeimbangkan kedua sisinya
Berulang kali aku terjatuh dalam
kubangan lumpur di depan mata
Tapi Bapak tidak marah
Beliau membantuku bangkit dari sana
Dan mengarahkan aku untuk selalu belajar
dan mencoba
Roda ke tiga pun akhirnya tiada
Kini aku belum sempurna membuat sebuah
cerita
Terdapat salah di berbagai sudutnya
Mulai dari tanda baca, penggunaan
kata
Hingga kalimat yang kurang enak
dibaca
Komentar pedas tak jarang kuterima
Suntingan cerita mengekor di setiap karya
Kadang karyaku pun tak layak untuk
dibaca
Oleh mereka yang lebih dulu berkarya
Tapi tak apa, aku tak akan berburuk
sangka
Karena dulu mereka di posisi yang sama,
tak langsung diterima
Aku merenung mengingat ketika aku mengeja
kata
Dan jatuh dari sepeda
Ajar Ibu Bapak, Aku harus terus belajar
dan mencoba!
Hingga kemudian hari aku akan bisa
Merangkai kata indah sarat makna
Berguna bagi setiap pembaca
Malang, 09 Januari 2015
*JRS
*JRS
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengasah Pisau Ilmu
Kata bapak (Kanjeng Papih) tidak semua orang bisa mengasah pisau. Terbukti, di rumah tidak setiap anggotanya pandai melakukan. Hanya bapa...
-
#DialogPingpong #Tipsmenghadapigombaler A: "Adek lagi galau?" R: "Eh? Galau?" A: "Itu, status fac...
-
Seperti tujuh tahun yang lalu, kelopakku serasa tertindih batu ketika menatap wajahmu yang teduh. Senyumku yang juga masih sipu kau anggap ...
-
Masih sangat jelas terekam di dalam ingatan. Kemarin, aku melakukan perjalanan dari kota Surabaya menuju Malang dengan menggunakan jasa tak...