12 Januari 2015

Tundukkan Pandangan Mata

Seperti malam-malam sebelumnya, Lintang keluar rumah, membeli makanan dengan seorang sahabat bernama Wulan. Khusus malam ini ia tak hanya membeli makanan, melainkan hendak membeli rok idaman yang telah terpajang di etalase toko seberang jalan. Ia mengenakan kerudung berwarna hijau tua, jaket merah muda, dan rok biru tua- mencolok. Setelah menuruni tangga penghubung antara lantai dua dengan lantai pertama mereka berjalan beriringan, menundukkan pandangan menuju ATM di dekat Universitas Islam Negeri yang terdapat di kotanya untuk mengambil rupiah.

9 Januari 2015

Bapak!

Dering ponselku berbunyi dengan lembut. Satu kata indah tersurat di tengah layar …

“Bapak”

Dengan sigap tanganku meraih ponsel berwarna serupa arang yang tergeletak di atas ranjang. Tak rela beliau menunggu terlalu lama untuk sekedar bersua suara dengan salah satu anak terkasihnya ini.

“Assalamualaikum, Pak,” jawabku spontan seperti sebelum-sebelumnya. Dari seberang sana jelas terdengar hembusan angin kampung dekat Gunung Semeru-Gunung tertinggi di pulau Jawa. Hembusan yang selalu kurindukan.

“Waalaikumsalam Nduk, lapo sampean? Wes maem?” Cecar Bapak dengan suara merdunya. Seketika bayang tampan wajah beliau menghampiri, lengkap dengan beberapa kerut di kedua sudut mata.

 “Niki mendel, Pak …, sampun, njenengan pun dahar?” Jawaban umum yang selalu aku berikan, tentu saja tanpa rasa  malas mengiring ataupun kebohongan.

“Uwes, Nduk! Sampean ojo telat maem loh!” Kelegaan jelas tersirat dalam nada suara Bapak. Aku bisa membayangkan betapa khawatirnya beliau jikalau aku menjawab belum. Takut jika kekebalan tubuhku menurun. Jangan telat makan! Pesan itu selalu terucap setiap kita bersua, baik melalui alat perantara, maupun bertatap muka. Aku harus ingat dan jalankan jika tak ingin membuatnya gelisah!

“Nggih … Njenengan mpun sakit-sakit Pak. Istirahat!” Bapak memang memiliki penyakit jantung koroner dan darah tinggi semenjak 14 tahun lalu. Alhamdulillah! Saat ini beliau masih bisa membersamai aku, ibu, dan kakakku. Menyaksikan kami anaknya semakin tinggi menyaingi.

“Iyo, yowes lek ngunu. Assalamualaikum.”

“Nggih Pak, waalaikumsalam.”

Percakapan yang tak pernah terlewat antara aku dan Bapak. Sederhana, tak banyak pengucapan kata, tapi aku bisa menangkap jelas kasih sayang, perhatian, dan kelegaan beliau mendengar jawabku. Membahagiakannya tak butuh berjuta rupiah, tak harus dengan memberi mobil mewah. Apalah artinya itu, jika secuil perhatian dan melakukan apa yang beliau inginkan pun tak bisa? Toh itu demi kebaikanku. Ibu selalu berkata kepadaku …,

“Sampean kan pasti dadi wong sukses, Nduk! Wong tuwo iku ga butuh duik e sampean. Sing dijaluk wong tuwo teko sampean iku sampean tetep manut, hormat nang Bapak karo Ibuk”


Malang, 07 Januari 2015


*JRS

Teramat Kecil!

Memandang langit selalu membuatku merasa teramat kecil 
Memandang jauh ke depan dari ketinggian pun selalu membuatku merasa teramat kecil


Itu sebabnya aku suka memandang langit, terlebih di kala senja dan ketika malam penuh bintang tiba
Itu sebabnya aku suka melihat jauh ke depan dari tempat-tempat tinggi walau kutakuti 

Membuatku merasa teramat kecil untuk sekedar menyombongkan diri ...


Malang, 08 Januari 2015

*JRS


Ajar Orang Tua

Dulu, aku belum bisa menulis pula membaca
Sebelum berada di bangku Taman Kanak-kanak
Ibu telah mengajariku kedua hal itu, suka rela
Aku masih terbata, mengeja kata demi kata
Tapi Ibu tidak marah
Beliau memberi sebuah cerita untuk kubaca
Ingin aku tuk terus belajar dan mencoba
Dan akhirnya, aku pun bisa

Dulu, aku belum bisa mengendarai sepeda
Bapak memberiku sepeda roda tiga, agar aku mencoba
Tapi tetap, aku belum bisa menyeimbangkan kedua sisinya
Berulang kali aku terjatuh dalam kubangan lumpur di depan mata
Tapi Bapak tidak marah
Beliau membantuku bangkit dari sana
Dan mengarahkan aku untuk selalu belajar dan mencoba
Roda ke tiga pun akhirnya tiada

Kini aku belum sempurna membuat sebuah cerita
Terdapat salah di berbagai sudutnya
Mulai dari tanda baca, penggunaan kata
Hingga kalimat yang kurang enak dibaca
Komentar pedas tak jarang kuterima
Suntingan cerita mengekor di setiap karya
Kadang karyaku pun tak layak untuk dibaca
Oleh mereka yang lebih dulu berkarya

Tapi tak apa, aku tak akan berburuk sangka
Karena dulu mereka di posisi yang sama, tak langsung diterima
Aku merenung mengingat ketika aku mengeja kata
Dan jatuh dari sepeda 
Ajar Ibu Bapak, Aku harus terus belajar dan mencoba!
Hingga kemudian hari aku akan bisa
Merangkai kata indah sarat makna
Berguna bagi setiap pembaca

Malang, 09 Januari 2015

*JRS

Mengasah Pisau Ilmu

Kata bapak (Kanjeng Papih) tidak semua orang bisa mengasah pisau. Terbukti, di rumah tidak setiap anggotanya pandai melakukan. Hanya bapa...