Selamat malam, Rindu ...
Aku ingin sedikit berbagi cerita denganmu. Begini:
Cinta dan Kasihku telah layu dari beberapa hari lalu. Aku menduga ini karena kemarau panjang yang telah melanda tanahku. Rindu, seperti yang kau tahu bahwa Cinta dan Kasihku sudah cukup sepuh. Akar-akarnya tak mampu menembus tanah yang semakin tandus, pertumbuhannya pun tak lagi berlanjut. Kekeringan beberapa bulan lalu menggugurkan dedaun Cinta dan Kasihku satu persatu. Menurutmu, apakah aku harus maklum?
Bias merah cahaya senja mulai menyapa, pengantar beribu Bintang kerlip di Angkasa / Satu Bintang tampak tak berkawan di sana, sendiri; sepi Mereka menganggap dia berbeda; tak sama// Bukan berbeda sebenarnya … Hanya saja, dia tampak lebih terang dari yang lainnya
11 November 2015
10 November 2015
Benang Merah Tak Kasat Mata
Aku telah kauikat dengan benang merah tak kasat mata yang menjulur, keluar dari hatimu lalu masuk ke dalam hati dan menembus jiwaku. Semacam benang chakra; menyalurkan energi ke dalam tubuh.
Kau merasaku walau jauh. Pun begitu denganku. Kau masuk ke dalam mimpi besarku dan aku ialah bagian dari mimpi besarmu.
Kau merasaku melalui benang merah yang tak kasat mata. Merasa resah, gundah, sakit dan pedih di dalam hati juga tubuhku. Padamu, aku pun begitu. Benang itu lebih mudah menyalurkan energi kesedihan.
Kau merasaku walau jauh. Pun begitu denganku. Kau masuk ke dalam mimpi besarku dan aku ialah bagian dari mimpi besarmu.
Kau merasaku melalui benang merah yang tak kasat mata. Merasa resah, gundah, sakit dan pedih di dalam hati juga tubuhku. Padamu, aku pun begitu. Benang itu lebih mudah menyalurkan energi kesedihan.
2 November 2015
Laut Mati
#DialogPingpong
#Tipsmenghadapigombaler
A: "Adek lagi galau?"
R: "Eh? Galau?"
A: "Itu, status facebooknya galau mulu!"
R: "Galau? Hanya perenungan aja, Kak. Hasil berbincang dengan nurani!"
A: "Ciee ... lanjutkan, Dek. Keren hasilnya, bisa dibaca banyak orang. Sayangnya Kakak masih susah baca isi hati penulisnya. Abis unyu banget sih!"
R: "Namanya diupload pasti bisa dibaca banyak orang lah. Iya dong unyu!"
Aku
Dalam hening hari tanpa sorak sorai para penyanyi. Kuterduduk di lantai sendiri, di gelap ruang tanpa mentari, tanpa lampu menyinari.
Dingin. Lantaiku tak beralas.
Pengap. Ruangku tak berpintu, tak jua berdaun jendela.
Suram. Kumeringkuk di sudut ruang. Memeluk lutut erat. Sangat erat.
"A ... aku takut!" rintihku lirih.
Dingin. Lantaiku tak beralas.
Pengap. Ruangku tak berpintu, tak jua berdaun jendela.
Suram. Kumeringkuk di sudut ruang. Memeluk lutut erat. Sangat erat.
"A ... aku takut!" rintihku lirih.
Gundukan Tanah yang Masih Basah
Awan hitam masih menggantung. Segerombolan angin yang datang dari arah Timur tampak kalut. Mereka berlari, terus berlari menabraki dinding, pohon, merebahkan ilalang dan menggugurkan bunga kamboja. Lalu terhempas di belahan bumi lainnya dan digantikan segerombolan angin dari arah yang tak berbeda.
Ribut angin membawa butiran debu. Mencipta jelaga di dalam sepasang lubang dan menyumbatnya. Awan hitam yang masih menggantung memandangi keributan di bawah. Matanya terasa pedih. Mungkin kemasukan debu yang dibawa dan dilangitkan angin. Ia mengerjap; terus mengerjap. Perlahan mata indahnya berair. Bening, dingin , dan semakin banyak.
Tentang Jingga
Setelah beberapa waktu berlalu, Surya kembali ke dalam dekap sang bunda. Wajahnya yang cerah, kini telah memerah. Sebab amarah juga rasa bersalah. Marah akan keputusan sepihak gadis yang masih dicintainya. Juga merasa bersalah sebab dia tak pernah ada saat kekasihnya sedang dirundung duka, merasa bersalah akan sikap acuh, dan penolakan orang tua akan gadis yang masih ingin diperjuangkannya. Surya tak menerima, tapi harus menerima, dan terpaksa menerima. Dia tak bisa, harus bisa, dan terpaksa bisa.
Gelap malam telah termakan cahaya putih penerang bumi. Fajar, lelaki yang merasakan pedihnya merelakan kekasih pergi malam tadi kini menekuri sepi dalam dekap hangat sinar mentari. Tak benar-benar sepi, hatinya bergemuruh, mengutuk diri karena keputusan dan sikapnya sendiri. Dia memaksa Lintang meninggalkannya dan gadis bermata sipit itu terpaksa kembali ke pelukan Grahana sang mantan kekasih. Fajar memaksa Lintang, Rembulan, dan seluruh kerabatnya berpelukkan dengan rasa benci. Lelaki itu tahu, harus tahu, dan terpaksa tahu. Lelaki itu rela, harus rela, dan terpaksa rela. Lintang, tak akan lagi kembali ke dalam dekap hangatnya.
Rapuh (Latepost)
Seperti hari-hari sebelumnya kala senja hendak menampakkan wujud ayu dirinya. Dinda beranjak dari kamar menuju tempat jemuran baju di lantai empat rumah kos yang kini menjadi rumah kedua baginya. Laptop, headset, dan handphone menjadi teman setia saat dia ingin menyendiri. Gadis yang selalu ceria di mata teman-temanya itu, kini terpuruk sepi. Termakan kelukaan hati karena keputusan yang ia putuskan sendiri.
Dinda telah duduk bersila di atas balkon jemuran, menghadap tepat ke arah Barat. Membuka laptop dan memutar lagu kesayangan, sudah menjadi ritual yang tak terlewatkan ketika Dinda menunggu sang senja datang. Rapuh, karya grup band Indonesia, Padi. Band kesayangan, bukan karena personilnya yang ia kagumi melainkan lirik lagu yang mereka bawakan selalu menyentuh hati rupawan Dinda. Headset yang tersambung dengan handphone hitam miliknya telah terpasang di kedua sisi telinga gadis itu dengan sempurna. Musikku - Favorit - Padi - Rapuh - Mainkan ....
----------
4 Februari 2015
Cerita Kita
Danau Ranu Kumbolo di Kaki Puncak
Mahameru menjadi saksi pertemuan antara kau dan aku, dua tahun lalu. Ketika sang
mentari kembali menyapa hari dari sela kedua bukit hijau itu, kau sapa aku
dengan candamu. Senyummu mengalahkan indahnya fajar saat itu. Dua meter jarak
antara kita tercipta ketika menikmati indahnya langit jingga ciptaan Tuhan Yang
Maha Kuasa. Dingin udara yang menerpa tubuhku, kau hadang dengan guyonanmu yang
menghangatkan jiwa. Sungguh indah!
Satu minggu setelah pertemuan kita, kau menghubungi diriku. Entah dari mana deretan
11 digit angka itu kau dapat untuk menghubungkanmu padaku. Waktu kian berlalu,
dan komunikasi kita senantiasa terjaga, aku semakin terbiasa dengan hadirmu di
setiap hariku.
**
Dua tahun bukanlah waktu yang
singkat bagi kita untuk menyatukan hati dan tujuan. Pelaminan menjadi ujung
dari penantian. Pertunjukan wayang menjadi anganku saat hari bahagia kita tiba,
bukan untuk hura-hura dan membuang rupiah. Aku hanya ingin membahagiakan Ayah.
Ini Tentang Kamu dan Aku. Sahabatku!
Tak ada setitik darah satukan kita
Tak juga tempat hura-hura yang
mendekatkan kita
Strata kita pun jelas tak sama,
walau itu tak sekali pun jadi masalah
Kau dan aku terpisah sedari SMA,
komunikasi pun alakadarnya
12 Januari 2015
Tundukkan Pandangan Mata
Seperti malam-malam sebelumnya,
Lintang keluar rumah, membeli makanan dengan seorang sahabat bernama Wulan.
Khusus malam ini ia tak hanya membeli makanan, melainkan hendak membeli rok
idaman yang telah terpajang di etalase toko seberang jalan. Ia mengenakan
kerudung berwarna hijau tua, jaket merah muda, dan rok biru tua- mencolok. Setelah
menuruni tangga penghubung antara lantai dua dengan lantai pertama mereka
berjalan beriringan, menundukkan pandangan menuju ATM di dekat Universitas
Islam Negeri yang terdapat di kotanya untuk mengambil rupiah.
9 Januari 2015
Bapak!
Dering ponselku berbunyi dengan
lembut. Satu kata indah tersurat di tengah layar …
“Bapak”
Dengan sigap tanganku meraih ponsel
berwarna serupa arang yang tergeletak di atas ranjang. Tak rela beliau menunggu
terlalu lama untuk sekedar bersua suara dengan salah satu anak terkasihnya ini.
“Assalamualaikum, Pak,” jawabku
spontan seperti sebelum-sebelumnya. Dari seberang sana jelas terdengar hembusan
angin kampung dekat Gunung Semeru-Gunung tertinggi di pulau Jawa. Hembusan yang
selalu kurindukan.
“Waalaikumsalam Nduk, lapo sampean?
Wes maem?” Cecar Bapak dengan suara merdunya. Seketika bayang tampan wajah beliau
menghampiri, lengkap dengan beberapa kerut di kedua sudut mata.
“Niki mendel, Pak …, sampun, njenengan pun
dahar?” Jawaban umum yang selalu aku berikan, tentu saja tanpa rasa malas mengiring ataupun kebohongan.
“Uwes, Nduk! Sampean ojo telat maem
loh!” Kelegaan jelas tersirat dalam nada suara Bapak. Aku bisa membayangkan
betapa khawatirnya beliau jikalau aku menjawab belum. Takut jika kekebalan
tubuhku menurun. Jangan telat makan! Pesan itu selalu terucap setiap kita
bersua, baik melalui alat perantara, maupun bertatap muka. Aku harus ingat dan
jalankan jika tak ingin membuatnya gelisah!
“Nggih … Njenengan mpun sakit-sakit
Pak. Istirahat!” Bapak memang memiliki penyakit jantung koroner dan darah
tinggi semenjak 14 tahun lalu. Alhamdulillah! Saat ini beliau masih bisa
membersamai aku, ibu, dan kakakku. Menyaksikan kami anaknya semakin tinggi
menyaingi.
“Iyo, yowes lek ngunu.
Assalamualaikum.”
“Nggih Pak, waalaikumsalam.”
Percakapan yang tak pernah terlewat
antara aku dan Bapak. Sederhana, tak banyak pengucapan kata, tapi aku bisa
menangkap jelas kasih sayang, perhatian, dan kelegaan beliau mendengar jawabku.
Membahagiakannya tak butuh berjuta rupiah, tak harus dengan memberi mobil
mewah. Apalah artinya itu, jika secuil perhatian dan melakukan apa yang beliau
inginkan pun tak bisa? Toh itu demi kebaikanku. Ibu selalu berkata kepadaku …,
“Sampean kan pasti dadi wong sukses, Nduk! Wong tuwo iku ga butuh duik e sampean. Sing dijaluk wong tuwo teko sampean
iku sampean tetep manut, hormat nang Bapak karo Ibuk”
Malang, 07 Januari 2015
*JRS
Teramat Kecil!
Memandang langit selalu membuatku merasa teramat kecil
Memandang jauh ke depan dari ketinggian pun selalu membuatku
merasa teramat kecil
Itu sebabnya aku suka memandang langit, terlebih di kala
senja dan ketika malam penuh bintang tiba
Itu sebabnya aku suka melihat jauh ke depan dari
tempat-tempat tinggi walau kutakuti
Membuatku merasa teramat kecil untuk sekedar menyombongkan
diri ...
Malang, 08 Januari 2015
*JRS
Ajar Orang Tua
Dulu, aku belum bisa menulis pula membaca
Sebelum berada di bangku Taman
Kanak-kanak
Ibu telah mengajariku kedua hal itu,
suka rela
Aku masih terbata, mengeja kata demi
kata
Tapi Ibu tidak marah
Beliau memberi sebuah cerita untuk
kubaca
Ingin aku tuk terus belajar dan mencoba
Dan akhirnya, aku pun bisa
Dulu, aku belum bisa mengendarai
sepeda
Bapak memberiku sepeda roda tiga,
agar aku mencoba
Tapi tetap, aku belum bisa
menyeimbangkan kedua sisinya
Berulang kali aku terjatuh dalam
kubangan lumpur di depan mata
Tapi Bapak tidak marah
Beliau membantuku bangkit dari sana
Dan mengarahkan aku untuk selalu belajar
dan mencoba
Roda ke tiga pun akhirnya tiada
Kini aku belum sempurna membuat sebuah
cerita
Terdapat salah di berbagai sudutnya
Mulai dari tanda baca, penggunaan
kata
Hingga kalimat yang kurang enak
dibaca
Komentar pedas tak jarang kuterima
Suntingan cerita mengekor di setiap karya
Kadang karyaku pun tak layak untuk
dibaca
Oleh mereka yang lebih dulu berkarya
Tapi tak apa, aku tak akan berburuk
sangka
Karena dulu mereka di posisi yang sama,
tak langsung diterima
Aku merenung mengingat ketika aku mengeja
kata
Dan jatuh dari sepeda
Ajar Ibu Bapak, Aku harus terus belajar
dan mencoba!
Hingga kemudian hari aku akan bisa
Merangkai kata indah sarat makna
Berguna bagi setiap pembaca
Malang, 09 Januari 2015
*JRS
*JRS
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengasah Pisau Ilmu
Kata bapak (Kanjeng Papih) tidak semua orang bisa mengasah pisau. Terbukti, di rumah tidak setiap anggotanya pandai melakukan. Hanya bapa...
-
#DialogPingpong #Tipsmenghadapigombaler A: "Adek lagi galau?" R: "Eh? Galau?" A: "Itu, status fac...
-
Seperti tujuh tahun yang lalu, kelopakku serasa tertindih batu ketika menatap wajahmu yang teduh. Senyumku yang juga masih sipu kau anggap ...
-
Masih sangat jelas terekam di dalam ingatan. Kemarin, aku melakukan perjalanan dari kota Surabaya menuju Malang dengan menggunakan jasa tak...