17 Maret 2016

Antara Surabaya-Malang

Masih sangat jelas terekam di dalam ingatan. Kemarin, aku melakukan perjalanan dari kota Surabaya menuju Malang dengan menggunakan jasa taksi berlogo mirip logo salah satu media  sosial. Bukan apa-apa, dua koper dan dua tas jinjing memaksaku untuk menggunakan jasa itu. Taksi berwarna langit yang aku tumpangi melaju dengan cukup kencang menuju Bandara Juanda untuk mengantar kakak perempuanku terlebih dahulu. Setelahnya, Kota Malang menjadi tujuan.

Sepanjang perjalanan, aku dan bapak sopir yang ramah itu berbincang.

"Anaknya berapa, Pak?" Aku memulai dengan pertanyaan sederhana. Dari perbincangan beliau dengan kakak perempuanku tadi, aku tahu beliau berasal dari Probolinggo, Jawa Timur.

"Satu, Mbak! Mbaknya ini ke Malang kuliah di mana?"

"Brawijaya, Fakultas Pertanian. Di Soseknya, Pak!" Jawabku mulai bersemangat. Jalan untuk berbincang dan mengambil ilmu dari beliau semakin terbuka.

"Baru masuk ya, Mbak?" Seperti kebanyakan orang mengira. Aku sedikit tertawa mendengar pertanyaan beliau.

"Saya sudah semester tujuh ini, Pak. Kalau bapak anaknya kelas berapa?" Pria yang perkiraan usia hampir setengah abad itu kaget dan melontarkan beberapa pertanyaan terkait topik tugas akhir kuliah yang akan aku teliti.

"Anak saya di UGM, Mbak. Pertanian juga, di Soseknya juga. Ga tau nanti kalau lulus gelarnya apa," cerita beliau.

"Waah ... sama, Pak. Jarang pulang berarti, nggih?"

"Iya, Mbak. Tapi gimana ya, saya kan dari tahun 1987 kerja nyopir. Tiga bulan sekali baru pulang. Jadi anak kurang deket. Kemarin SMS, tapi formal banget sama saya?" Bapak tersebut berhenti sejenak.


"Pasti rada canggung, Pak?" Aku menyela.

"Nah iya, Mbak! Tapi saya punya kenangan sama anak. Saya masih ingat waktu anak baru mulai belajar berjalan. Apa namanya ya? Trantanan, ..." Seperti kebanyakan orang tua dan kebanyakan sopir yang aku temui, beliau semangat menceritakan anak lelaki satu-satunya yang di miliki. Anak lelaki beliau sangat pintar, saat ini sedang menempuh pendidikan untuk gelas magister di UGM.

Perbincangan kami semakin berlanjut. Rupanya sebelum menekuni pekerjaan sebagai sopir taksi, beliau memutuskan untuk menjadi sopir truk besar pengantar barang. Jejak pria berkemeja biru itu telah membekas di seluruh kota di Pulau Jawa dan beberapa pulau lainnya. Aku menyimak sembari sesekali mengangguk setuju dan terkagum-kagum. Profesi sebagai seorang sopir beliau jalani dengan sepenuh hati. Dua puluh delapan tahun lalu, bapak yang duduk dikursi kemudi tersebut rela berdebat dengan sang ayah demi menjalani profesi yang hendak di jalani.

"Dulu pertama kali bilang sama orang tua ya saya dimaki, Mbak. 'Kamu ini mau bikin malu orang tua? Disekolahin tinggi-tinggi, uda jadi sarjana sekarang mau nyupir? Coba kamu lihat gimana kehidupan sopir!' " terang beliau menirukan gaya bicara ayahnya kala itu.

"Memang kenapa dengan kehidupan sopir, Pak?" Tanyaku penasaran dan benar-benar tidak paham.

"Di mata orang tua saya, kehidupan sopir apalagi yang bawa truk gandeng itu dekat dengan rokok dan alkohol, Mbak. Dan kebanyakan memang seperti itu ..." Aku menegakkan posisi duduk dan semakin antusias mendengar cerita beliau.

"Tapi anggapan ayah malah saya jadikan pelecut, Mbak. Selama ini saya sama sekali ga pernah menyentuh yang namanya rokok dan alkohol. Saya mau buktikan kalau saya bisa menjadi sopir yang sukses."

Bapak berseragam biru motif itu masih melanjutkan cerita, dari bagaimana tanggapan sang ayah, ibu, dan juga saudara. Dari bahasa tubuh dan intonasi ketika bercertia, terlihat jelas 
betapa beliau mencintai pekerjaannya. Aku dibuat kagum. Beliau mampu meluluhkan hati orang tua dengan kesungguhan cinta atas sebuah pekerjaan.

Sembari mendengarkan beliau bercerita dan sesekali menimpali, aku memerhatikan beberapa banyak tanaman yang mengering di sisi kanan kiri tol. Beberapa kali kulihat speedometer mobil cukup stabil di angka 80 km/jam. Padahal jalan tol cukup lengang dan tidak jarang mobil lain mendahului kami. Berbeda sekali dengan kebanyakan lainnya. Tahun lalu di jalan tol dari terminal Bungurasih menuju Surabaya kota, taksi yang aku tumpangi melaju sampai di angka 110 km/jam. Alarm peringatan pun senantiasa terdengar. Bahkan bapak sopir kala itu mendahului dari bahu jalan.

'Bapak ini cukup taat aturan!" Batinku setelah menyelami ingatan.

"Mbak kalau capai istirahat saja, ini masih jauh satu sampai dua jam lagi ...," tawar beliau yang mungkin menyadari keterdiamanku.

"Engga, Pak. Saya suka dengerin bapak cerita. Biasa kalau naik taksi maupun angkot suka ngobrol dengan bapak sopir ...," tegasku.

"Saya takutnya ganggu, soalnya jarang ada penumpang yang mau ngobrol sepanjang jalan. Apalagi ini perjalanan kurang lebih tiga jam, Mbak!" Beliau sedikit tertawa dan aku pun sama. Kami mulai berbincang berbagai macam penumpang yang pernah beliau temui. Ada yang sopan, ada yang ramah, ada juga yang tidak bisa menghormati orang tua.

Beliau terus bercerita, sedang aku memilah bagian yang dapat dijadikan pelajaran. Sesekali menimpali sembari memerhatikan kendaraan yang mendahului. Terkadang bunyi klakson terdengar dari mereka yang menganggap kami menghalangi laju mobil yang dibawanya.

'Padahal mobil ini udah di batas maksimal kecepatan. Laju mobil mereka berapa ya kecepatannya?" Tanyaku yang tak pernah terucap.

"Nah ada lagi, Mbak!" Bapak sopir membawaku kembali dari alam pikiran. Aku menunggu apa yang hendak beliau sampaikan.

"Selama saya menjadi sopir, baik itu sopir truk maupun taksi. Saya ga pernah yang namanya pakai klakson. Bahkan waktu motoran pun saya ga pernah nglakson!" Dahiku sedikit mengerut, membentuk dua siku yang berlawanan, heran.

"Kenapa emangnya, Pak?"

"Buat ngelatih kesabaran, Mbak. Jadi sopir ini saya belajar tentang kesabaran dari hal yang paling sederhana. Saya lebih baik ngerem dari pada nglakson!" Penuturan beliau kembali membuatku kagum.

"Walaupun lagi bareng keluarga juga, Pak?"

"Iya, Mbak. Jadi ya istri kadang ngomel, tapi saya jelaskan baik-baik. Misalnya juga waktu berangkat jam lima pagi. Bawa mobil sama istri sampai di persimpangan ada lampu lalu lintas. Kan masih sepi tapi dapat lampu merah, saya berhenti. Eh istri ngomel juga ...,"

"Terus Bapak tetep berhenti kah?" Aku menyela, penasaran.

"Iya, Mbak. Ya saya bilang 'Sabar, Ma. Paling engga, kita menghargai yang masang lampu merahnya itu loh!'" Kali ini beliau mampu membuatku tertegun sejenak.

"Wah cara negurnya bikin adem, Pak. Saya biasanya misal dibonceng teman atau bapak sendiri, misal melanggar aturan negurnya langsung bilang, 'jangan ngelanggar peraturan!' dan kebanyakan ga dihiraukan!"

"Nah itu, Mbak. Apa ya saya mau mengajarkan sama istri untuk menghargai saja. Jadi kan sama-sama enak. Taat aturannya dapat, damainya dapat, insya Allah pahalanya dapat!"

Perbincanganpun berlanjut.

Malang,
Hari pertama di bulan terakhir 2015

___

NB:

Kepada Bapak Sopir: Mohon maaf saya lupa nama Bapak. Lupa saya catat ketika itu. Terima kasih atas ilmu, pengalaman, dan cerita yang Bapak bagi. Semoga saya selalu ada dalam ingatan baik, Bapak dan semoga kita dipertemukan kembali dalam kondisi yang lebih baik. Bukan saya sebagai penumpang yang harus Bapak layani, melainkan kita (mungkin saya, anak, dan suami dan bapak bersama anak, istri, juga cucu) dalam jamuan makan di warung lesehan. Semoga Bapak senantiasa dalam lindungan dan keberkahan Allah. :)

Salam hormat dari saya, Juwita Ratna Sari.

*diselesaikan Jakarta, 15 Maret 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengasah Pisau Ilmu

Kata bapak (Kanjeng Papih) tidak semua orang bisa mengasah pisau. Terbukti, di rumah tidak setiap anggotanya pandai melakukan. Hanya bapa...