2 November 2015

Tentang Jingga

Setelah beberapa waktu berlalu, Surya kembali  ke dalam dekap sang bunda. Wajahnya yang cerah, kini telah memerah. Sebab amarah juga rasa bersalah. Marah akan keputusan sepihak gadis yang masih dicintainya. Juga merasa bersalah sebab dia tak pernah ada saat kekasihnya sedang dirundung duka, merasa bersalah akan sikap acuh, dan penolakan orang tua akan gadis yang masih ingin diperjuangkannya. Surya tak menerima, tapi harus menerima, dan terpaksa menerima. Dia tak bisa, harus bisa, dan terpaksa bisa.

Gelap malam telah termakan cahaya putih penerang bumi. Fajar, lelaki yang merasakan pedihnya merelakan kekasih pergi malam tadi kini menekuri sepi dalam dekap hangat sinar mentari. Tak benar-benar sepi, hatinya bergemuruh, mengutuk diri karena keputusan dan sikapnya sendiri. Dia memaksa Lintang meninggalkannya dan gadis bermata sipit itu terpaksa kembali ke pelukan Grahana sang mantan kekasih. Fajar memaksa Lintang, Rembulan, dan seluruh kerabatnya berpelukkan dengan rasa benci. Lelaki itu tahu, harus tahu, dan terpaksa tahu. Lelaki itu rela, harus rela, dan terpaksa rela. Lintang, tak akan lagi kembali ke dalam dekap hangatnya.


Akan tiba masa di mana rotasi bumi melemahkan sengatan mentari. Seperti saat ini. Saat Senja keluar rumah, menikmati senyap semesta dan menunggu petang tiba. Senja, perempuan maha sempurna. Tubuh semampai dan wajah  senantiasa merona. Mata indahnya menatap bagian dunia di seberang rumah. Lelaki yang diinginkannya tinggal di sana dan bersidekap rasa dengan perempuan yang dikenalnya, dekat. Senja terluka, berdarah, merana; hatinya. Dia ingin lelaki yang sejatinya masih kerabat itu tahu, mendengar; lukanya, jeritnya. Dan saudaranya itu tahu, harus tahu, terpaksa tahu. Dan saudaranya itu dengar, harus dengar, terpaksa mendengar.

Jingga …
Terbakar kekerasan tingkah juga isi kepala Surya. Gadis kecil itu terluka dan memutuskan menjauh dari pandang mata lelaki yang telah mengisi satu bab bagian  hidupnya. Dia ingin berkelana, namun Surya menjabat erat tangan mungil Jingga hingga menciptakan aliran air mata di dalam dada. Barangkali tangannya tak dijabat, melainkan diremas. Agar hatinya tak lagi ingin meninggalkan Surya. Namun Jingga melepasnya paksa, dan  menciptakan noda darah di dalam jemari tangannya. Merah.

Jingga berkelana, dengan jemari yang masih memerah. Surya kini tertutup gelapnya semesta dan jingga tak lagi melihatnya, sementara. Jingga menyusuri semesta raya, memandang indah bintang-bintang di atas kepala. Menikmati dingin udara yang menerpa raga. Menikmati sunyi yang menusuk sukma. Menyembuhkan luka di dalam jemarinya. Jingga terlalu terlena dengan suguhan yang tak terkira indahnya, damainya. Hingga tak sadar, mentari telah terbangun dari tidurnya. Dan Fajar menyapa. Fajar, yang malam tadi masih dirundung duka, kini nampa berwajah lebih cerah. Entah karena adanya Jingga menghias pagi di rumahnya, atau karena Fajar telah sembuh dari luka. Jingga dan Fajar kini bercanda, tertawa, dan belajar hidup bersama. Hingga akhirnya cinta itu menyerang mereka dan dua anak manusia tersebut mengikat janji hidup bersama. Jingga dan Fajar mengadu rasa. Bercengrama, berdua. Namun saling takut menimbulkan luka.

Jingga dan Fajar. Menikmati saat-saat tertawa bersama. Berjalan berdua. Hingga tersadar Surya, telah tiba di pandang mata. Dan gadis kecil itu memilih berhenti, memahamkan Surya akan pilihannya, kemudian menghampiri Fajar yang lebih dulu melanjutkan perjalanan.

Seperti pancaran sinar mentari siang ini yang membakar penghuni bumi, Jingga kembali terbakar kekakuan Surya. Digamparnya hati ringkih Jingga dengan kemarahan Surya yang luar biasa. Dia terluka dan tetap melangkah, menghampiri Fajar di depan sana. Namun, agaknya Senja telah lebih dulu berjumpa dengan kekasihnya. Jeritan hati Senja serupa medan magnet bagi Fajar. Jingga yang datang dengan luka bakar di dalam dada, kini menatap mereka terpana. Tak bisa berbuat apa selain melanjutkan langkah. Menemui gelap malam, mencumbu bintang, dingin, juga sepi penusuk raga. Lalu pagi kembali menyapa, tanpa mentari karena tanpa sadarnya musim penghujan telah tiba.

Jingga kembali melanjutkan langkah. Namun, bungsu dari dua bersaudara itu enggan membawa luka turut serta dalam kepergiannya. Jingga telah terbiasa dengan nestapa yang mendera. Semenjak dia ada. Jingga percaya bahwa hati ialah penawar dari segala duka, kini dia dapat tersenyum lega tanpa sesak menghimpit dada.
Jingga … ialah bagian kecil dari hidup Si Surya, Fajar, dan juga Senja. Tak pernah diminta. Dia tahu dan memilih sebatas singgah, lalu kembali berkelana … mencari cahaya lain akan menganggapnya ada. Saat musim kemarau tiba.

Sukabumi, 18 September 2015

*JRS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengasah Pisau Ilmu

Kata bapak (Kanjeng Papih) tidak semua orang bisa mengasah pisau. Terbukti, di rumah tidak setiap anggotanya pandai melakukan. Hanya bapa...