Seperti hari-hari sebelumnya kala senja hendak menampakkan wujud ayu dirinya. Dinda beranjak dari kamar menuju tempat jemuran baju di lantai empat rumah kos yang kini menjadi rumah kedua baginya. Laptop, headset, dan handphone menjadi teman setia saat dia ingin menyendiri. Gadis yang selalu ceria di mata teman-temanya itu, kini terpuruk sepi. Termakan kelukaan hati karena keputusan yang ia putuskan sendiri.
Dinda telah duduk bersila di atas balkon jemuran, menghadap tepat ke arah Barat. Membuka laptop dan memutar lagu kesayangan, sudah menjadi ritual yang tak terlewatkan ketika Dinda menunggu sang senja datang. Rapuh, karya grup band Indonesia, Padi. Band kesayangan, bukan karena personilnya yang ia kagumi melainkan lirik lagu yang mereka bawakan selalu menyentuh hati rupawan Dinda. Headset yang tersambung dengan handphone hitam miliknya telah terpasang di kedua sisi telinga gadis itu dengan sempurna. Musikku - Favorit - Padi - Rapuh - Mainkan ....
Intro yang sangat manis dari lagu sendu itu kini semakin terdengar, menuntunku menuju gerbang kenangan indah yang sempat tercipta. Aku semakin terhanyut, pikirku melayang. Menembus gerbang kenangan yang memilukan bersama suara lirih Fadly sang vokalis grup band yang aku kagumi.
Kularut luruh dalam keheningan hatimu
Jatuh bersama derasnya tetes airmata
Kau benamkan wajahmu yang berteduhkan duka
Melagukan kepedihan di dalam jiwamu
Masih jelas kuingat ketika Alvian, mantan kekasih hati menangis di hadapanku. Memohon untuk mengurungkan niat menjauh darinya. Bukan, bukan karena ketidakcocokan maupun perselisihan terjadi di antara kami yang membuatku seperti itu. Restu dari ayah tercintanya tidak kudapatkan. Perbedaan lima tahun usia kami memang menjadi batasan bagi keluarganya, Alvian dipaksa menikah secepatnya. Bukan denganku, melainkan dengan gadis seumuran dirinya. Anak kenalan bisnis sang ayah. Maklum saja, dia anak sulung dari empat bersaudara. Usianya cukup matang untuk berlayar dalam kapal besar bernama rumah tangga. Sedang aku, kuliah belum juga lulus ... skripsi masih harus direvisi. Usiaku kini masih 21 tahun.
"Aku mau kita hadapi ini bareng-bareng. Yang jalani hubungan ini kan kita, Dek ..., bukan orang tua! Aku masih bisa nunggu," ucap Vian tiga bulan lalu.
"Aku ga bisa ngejalin hubungan tanpa persetujuan orang tua. Lagian Mas Vian uda dijodohin sama Mbak Riska, kan?" jawabku mencoba tegas.
----------
Dinda menghela napas berat. Dia sangat tahu, betapa terluka hatinya saat mengambil keputusan itu. Bukannya tanpa alasan ia menolak untuk memperjuangkan hubungan yang telah dua setengah tahun mereka jalani. Yang ada di benak Adinda, hanyalah menjaga kehormatan Alvian di mata keluarganya. Dinda tak ingin lelaki itu disidang dan dipermalukan di hadapan keluarga besarnya, hanya karena mempertahankan dirinya. Gadis dari keluarga sederhana.
Rencana kehidupan rumah tangga, telah mereka tata dengan rapi dan indah, termasuk cara mendidik anak-anak mereka nanti. Impian itu juga telah tertuang dalam buku impian berwarna merah jambu yang Dinda punya. Secara pribadi, Alvian memang telah melamar gadis berkerudung itu. Pernikahan akan mereka adakan setelah Dinda wisuda nanti. Manusia hanya bisa merencanakan. Itulah yang terjadi, kekuasaan tetaplah milik Tuhan.
*
Lagu kesayangannya masih terus berputar, Dinda kembali menatap gugusan awan yang mulai berubah warna. Jingga. Pikirnya kembali mengenang keputusan dan perasaan sang mantan kekasih yang ia lepaskan.
Tak pernah terpikirkan olehku
Untuk tinggalkan engkau seperti ini
Tak terbayangkan jika kuberanjak pergi
Betapa hancur dan harunya hidupmu
Hampir setiap hari Vian menghubungi Dinda, gadis itu hanya merespon singkat. Menjaga perasaan Riska, calon istri mantan kekasih yang masih dia cintai. Dinda tidak ingin menjadi orang ketiga di antara mereka.
"Jangan lupa sarapan, Dek ..., aku berangkat kerja ya. Assalamu'alaikum ...," sapa Vian setiap pagi melalui pesan singkat.
"Udah waktunya makan siang, makan sana ... pake nasi sama sayur. Awas ga manut!" Dinda hanya tersenyum miris membaca pesan yang selalu ditinggalkan sang pujaan. Jarang sekali ia balas sapaan Vian yang masih memperlihatkan kasih sayang terhadapnya.
"Lagi sibuk ya? Aku udah di rumah nih ... ayo sholat Maghrib dulu, tak imamin ya, Allahu Akbar!"
"Engga. Aku udah sholat, Mas ...." balas gadis itu. Singkat.
----------
Berulangkali lagu itu kuputar. Entah, aku sama sekali tak merasa bosan. Angin senja menerpa wajahku. Dingin. Mentari telah bersembunyi di balik Gunung Putri Tidur yang ada di hadapanku, dengan sempurna. Kini Bias merah cahaya senja menghiasi langit di kotaku. Aku kembali terhanyut dalam lautan kenangan.
Sebenarnya ku tak ingin berada di sini
Di tempat jauh yang sepi memisahkan kita
Kuberharap semuanya pasti akan berbeda
Meski tak mungkin menumbuhkan jiwa itu lagi
Berkali-kali terbesit dalam anganku untuk memperjuangkan dia. Biarlah tanpa restu dari orang tua, yang terpenting aku dan dirinya dapat bersama. Dua setengah tahun kami bersama tak se-inchi pun mas Vian menyentuhku. Dia ingin menjagaku, katanya. Walau siapa yang tahu di dalam hati dan pikiran kami berdua saat makan atau pergi bersama menginginkan hal yang dilarang agama. Andai saja, kami seumuran dan aku pun dilahirkan dari keluarga berpenghasilan besar. Pastilah tak akan terjadi perpisahan yang seperti ini. Tapi apa dayaku kini, dua bulan lagi mas Vian akan menikah dengan gadis cantik pilihan orang tuanya.
Aku tak mengerti apa yang mungkin terjadi
Sepenuh hatiku aku tak mengerti ....
----------
Jakarta, 12 Februari 2015
*JRS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar