2 November 2015

Gundukan Tanah yang Masih Basah

Awan hitam masih menggantung. Segerombolan angin yang datang dari arah Timur tampak kalut. Mereka berlari, terus berlari menabraki dinding, pohon, merebahkan ilalang dan menggugurkan bunga kamboja. Lalu terhempas di belahan bumi lainnya dan digantikan segerombolan angin dari arah yang tak berbeda. 

Ribut angin membawa butiran debu. Mencipta jelaga di dalam sepasang lubang dan menyumbatnya. Awan hitam yang masih menggantung memandangi keributan di bawah. Matanya terasa pedih. Mungkin kemasukan debu yang dibawa dan dilangitkan angin. Ia mengerjap; terus mengerjap. Perlahan mata indahnya berair. Bening, dingin , dan semakin banyak.


Melalui tetesan cairan mata, sang awan berbisik lembut, "Wahai Angin ... tenangkan dirimu. Butiran yang kau bawa dalam kemarahanmu, menyakiti mataku." Lalu dalam gelap tubuh dan kepedihan mata, awan hitam yang masih menggantung tersenyum teduh.

Keributan angin dari arah Timur tak lagi terasa. Mungkin karena tetesan carian mata sang awan telah menenangkan kecamuk batinnya. Menyisa desir yang menenangkan jiwa.

Di bawah awan hitam yang masih menggantung. Sesosok gadis terlihat menunduk, memandangi gundukan tanah yang masih basah di depannya. Di atasnya tampak bunga kenanga, mawar, juga melati. Serta tercium bau khas minyak yang menjadi bumbu sang bunga. 


Tak seperti gadis itu, orang-orang telah meninggalkan gundukan itu dari beberapa puluh hari lalu. Jubah putihnya yang menjuntai, menjadi saksi penantiannya. Mahkota hitam panjang yang menghias kepala, ia biarkan tergerai. Dikibarkan angin yang kini sepoi dari arah Timur. Pandangannya masih terpaku pada gundukan tanah yang masih basah. 

Sorot mata gadis itu beralih manatap kamboja yang berserakan di sekitar kaki dan di sekitar gundukan. Gadis berjubah putih membungkuk hingga mahkota hitam panjangnya menyapu tanah. Diraihnya satu guguran kamboja yang ada di dekat kaki dan kembali tegak. Lalu mengalihkan perhatian pada nama yang tertulis di batu penanda ujung gundukan tanah yang masih basah. 

Dengan kamboja yang masih masih di tangan. Gadis itu menatap pilu nama yang tertera di batu. Sepoi angin semakin melemah. Seakan ingin berhenti, memeluk, dan menenangkan batinnya. Sedang awan hitam yang masih menggantung menatapnya syahdu. Matanya memanas sama halnya gadis dengan jubah putih yang menjuntai di bawah naungannya. 

Hening. Angin dan awan menunggu apa yang hendak dilakukan si gadis bermahkota legam. Dan seperti tahu jika ia ditunggu. Gadis yang masih menatap pilu nama yang tertulis di atas batu itu tersenyum. Getir. Dia membaca nama itu dalam hati. Berjongkok, lalu mengusap batu di ujung gundukan dengan lembut.

 "Jingga ... jika sebegitu sakit penantianmu, mengapa kau masih bertahan dalam diam yang menyesakkan? Dalam doa yang entah kapan diijabah Tuhan?" Tanya gadis yang jubah putihnya menyapu tanah itu lirih. Lalu ... untuk pertama kalinya ia letakkan bunga kamboja di atas gundukan tanah yang masih basah. Di dekat batu yang tertulis nama. Jingga.

Gadis berjubah putih itu bangkit dengan tatapan sendu masih tertuju pada batu. Dan sepoi angin kembali mengibarkan berhelai-helai mahkota legam yang tergerai. Sedang sang awan masih memerhatikan dengan mata yang kian pedih dan memanas. Seperti yang dirasa gadis itu dari berberapa puluh hari lalu. 

"Jingga ... ayo pulang. Separuh darimu telah terkubur di sini. Di hati orang ini. Tidakkah separuhmu lagi ingin kembali?" Tegur sesosok yang sedari beberapa puluh hari lalu menemani gadis berjubah putih itu menatapi nama.

Gadis itu memandangi gundukan tanah yang masih basah. Lalu pandangannya beralih pada batu bertiliskan "Jingga". Namanya. Dengan sorot mata yang masih sendu ia berbalik. Menatap wanita paruh baya yang senatiasa menemaninya. Matanya yang memanas, kini telah berderai. Membasahi pipi. 

Gadis berjubah putih dan bermahkota legam itu memandang wanita di hadapannya dalam tangis tanpa suara. Lalu tersenyum. 

"Iya, Ibu!" Jawabnya dengan suara tertahan diiringi langkah yang kian menjauh dari gundukan tanah yang masih basah. Tempat separuh dirinya.

Angin dari arah Timur kembali ribut. Dan sang awan yang masih menggantung dengan mata memanas, kini meraung. Angin dan sang awan ikut teriris. Angin berlari, menjauhi gundukan tanah yang kini berhiaskan beberapa kenanga, mawar, melati, juga sekuntum kamboja. Dia mencari separuh Jingga. Ingin mendekap dengan sepoi lembut yang dimilikinya. Sedang sang awan masih saja meraung. Cairan matanya tak lagi menetes, melainkan mengucur. Deras. Membanjiri pusara separuh gadis berjubah putih. Di sini. Di hati salah seorang lelaki.


Malang, 30 Oktober 2015


*JRS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengasah Pisau Ilmu

Kata bapak (Kanjeng Papih) tidak semua orang bisa mengasah pisau. Terbukti, di rumah tidak setiap anggotanya pandai melakukan. Hanya bapa...