Dingin. Lantaiku tak beralas.
Pengap. Ruangku tak berpintu, tak jua berdaun jendela.
Suram. Kumeringkuk di sudut ruang. Memeluk lutut erat. Sangat erat.
"A ... aku takut!" rintihku lirih.
Perlahan ... wangi bangkai menguar, dari tubuh sang penghuni kamar. Menusuk hidung, paru, jantung; relung.
Aku.
Baik rupa. Busuk di dada. Tergerogoti belatung nafsu yang tak pernah dapat kucegah. Nafsu harta, nafsu nama; semua.
Aku.
Merdu kekata. Sumbang di telinga, di sukma Merusak gendang akhlaq aqidah.
Aku; seburuk manusia.
Mencoba cari celah dalam ruang tanpa cahaya. Dalam gelap mata. Buta; terpaksa buta.
Kucari secerca cahaya dalam pejam mata. Semoga saja ada; pasti ada. Dimana? Entah. Lagi, kususuri suram kamar tetap dengan kelopak tak terbuka.
Cahaya itu nyata ada. Tapi jauh di sudut berbeda. Tanganku, tubuhku; hatiku. Tak sanggup menyentuh; merengkuh.
Kutetap meringkuk sendiri. Memandang secerca cahaya dari sudut ruang sepi. Dengan wangi bangkai menyelimuti.
Malang, 13.07.15
*JRS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar