Danau Ranu Kumbolo di Kaki Puncak
Mahameru menjadi saksi pertemuan antara kau dan aku, dua tahun lalu. Ketika sang
mentari kembali menyapa hari dari sela kedua bukit hijau itu, kau sapa aku
dengan candamu. Senyummu mengalahkan indahnya fajar saat itu. Dua meter jarak
antara kita tercipta ketika menikmati indahnya langit jingga ciptaan Tuhan Yang
Maha Kuasa. Dingin udara yang menerpa tubuhku, kau hadang dengan guyonanmu yang
menghangatkan jiwa. Sungguh indah!
Satu minggu setelah pertemuan kita, kau menghubungi diriku. Entah dari mana deretan
11 digit angka itu kau dapat untuk menghubungkanmu padaku. Waktu kian berlalu,
dan komunikasi kita senantiasa terjaga, aku semakin terbiasa dengan hadirmu di
setiap hariku.
**
Dua tahun bukanlah waktu yang
singkat bagi kita untuk menyatukan hati dan tujuan. Pelaminan menjadi ujung
dari penantian. Pertunjukan wayang menjadi anganku saat hari bahagia kita tiba,
bukan untuk hura-hura dan membuang rupiah. Aku hanya ingin membahagiakan Ayah.
Saat fajar belum menyapa, kau berada
satu shaf di depanku dan aku mengikuti setiap gerakmu. Tausiyah mini menjadi
penutup setiap ritual yang kita lakoni. Sungguh, bahagia telah menjadi makmum
mu!.
Memasak merupakan agenda pagi yang tak
pernah terlewat, kini sepiring nasi dengan lauk capcay, tempe, dan telur dadar
kesukaanmu sudah tersedia di atas meja ruang tengah rumah kita. Kau menyantap
hidangan sederhana itu dengan lahap tanpa meninggalkan sisa. Bekal makan siang
dan buah pisang yang kusiapkan tak lupa
kau bawa mencari nafkah. Setiap pagi berakhir dengan kecupan singkat di
keningku yang kau beri penuh cinta. Ketika senja tiba, ku sambut hadirmu dengan
senyum termanis yang aku punya. Air hangat untuk membasuh setiap inci tubuhmu t’lah
tersedia pun hidangan malam menanti kita di atas meja.
Namun adanya, semua itu hanya
hayalanku belaka. Ayah dan ibumu tak lagi merestui kita. Mungkin karena aku tak
baik rupa, aklhaq, dan lagi aqidah.
________
Atas ijin-Nya, aku tidak akan lagi
menghubungimu. Bukan karena tak mau, ini demi hubunganmu dengan kedua orang
tuamu. Hormatilah selalu dan jangan berkata kasar terhadap mereka. Bahagialah engkau
bersama pilihan ayah ibumu dan cintailah ia melebihi cintamu terhadapku!
Baik-baiklah di sana karena aku pun baik-baik
saja di sini ….
Malang, 14 Januari 2015
~JRS
Ngenes dek, endingnya.
BalasHapus