4 Februari 2015

Cerita Kita

Danau Ranu Kumbolo di Kaki Puncak Mahameru menjadi saksi pertemuan antara kau dan aku, dua tahun lalu. Ketika sang mentari kembali menyapa hari dari sela kedua bukit hijau itu, kau sapa aku dengan candamu. Senyummu mengalahkan indahnya fajar saat itu. Dua meter jarak antara kita tercipta ketika menikmati indahnya langit jingga ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dingin udara yang menerpa tubuhku, kau hadang dengan guyonanmu yang menghangatkan jiwa. Sungguh indah!

Satu minggu setelah pertemuan  kita, kau menghubungi diriku. Entah dari mana deretan 11 digit angka itu kau dapat untuk menghubungkanmu padaku. Waktu kian berlalu, dan komunikasi kita senantiasa terjaga, aku semakin terbiasa dengan hadirmu di setiap hariku.

**

Dua tahun bukanlah waktu yang singkat bagi kita untuk menyatukan hati dan tujuan. Pelaminan menjadi ujung dari penantian. Pertunjukan wayang menjadi anganku saat hari bahagia kita tiba, bukan untuk hura-hura dan membuang rupiah. Aku hanya ingin membahagiakan Ayah.


Saat fajar belum menyapa, kau berada satu shaf di depanku dan aku mengikuti setiap gerakmu. Tausiyah mini menjadi penutup setiap ritual yang kita lakoni. Sungguh, bahagia telah menjadi makmum mu!.

Memasak merupakan agenda pagi yang tak pernah terlewat, kini sepiring nasi dengan lauk capcay, tempe, dan telur dadar kesukaanmu sudah tersedia di atas meja ruang tengah rumah kita. Kau menyantap hidangan sederhana itu dengan lahap tanpa meninggalkan sisa. Bekal makan siang dan buah pisang  yang kusiapkan tak lupa kau bawa mencari nafkah. Setiap pagi berakhir dengan kecupan singkat di keningku yang kau beri penuh cinta. Ketika senja tiba, ku sambut hadirmu dengan senyum termanis yang aku punya. Air hangat untuk membasuh setiap inci tubuhmu t’lah tersedia pun hidangan malam menanti kita di atas meja.

Namun adanya, semua itu hanya hayalanku belaka. Ayah dan ibumu tak lagi merestui kita. Mungkin karena aku tak baik rupa, aklhaq, dan lagi aqidah.

________

Atas ijin-Nya, aku tidak akan lagi menghubungimu. Bukan karena tak mau, ini demi hubunganmu dengan kedua orang tuamu. Hormatilah selalu dan jangan berkata kasar terhadap mereka. Bahagialah engkau bersama pilihan ayah ibumu dan cintailah ia melebihi cintamu terhadapku!

Baik-baiklah di sana karena aku pun baik-baik saja di sini ….

Malang, 14 Januari 2015

~JRS




1 komentar:

Mengasah Pisau Ilmu

Kata bapak (Kanjeng Papih) tidak semua orang bisa mengasah pisau. Terbukti, di rumah tidak setiap anggotanya pandai melakukan. Hanya bapa...