12 Januari 2015

Tundukkan Pandangan Mata

Seperti malam-malam sebelumnya, Lintang keluar rumah, membeli makanan dengan seorang sahabat bernama Wulan. Khusus malam ini ia tak hanya membeli makanan, melainkan hendak membeli rok idaman yang telah terpajang di etalase toko seberang jalan. Ia mengenakan kerudung berwarna hijau tua, jaket merah muda, dan rok biru tua- mencolok. Setelah menuruni tangga penghubung antara lantai dua dengan lantai pertama mereka berjalan beriringan, menundukkan pandangan menuju ATM di dekat Universitas Islam Negeri yang terdapat di kotanya untuk mengambil rupiah.


Lintang berjalan sembari memainkan kunci rumah seperti biasa. Entah apa yang sedang mengganjal dalam benaknya, Lintang menabrak kerangka baliho yang terbuat dari besi tepat di depan mini market samping rumah kos tercinta. Dia sama sekali tak menyangka, baru sadar ketika rasa sakit mendera dan gelak tawa orang di sekelilingnya pecah, cukup ramai maklum saja Sabtu malam muda-mudi banyak memanfaatkan waktu untuk bersama teman-teman tercinta mereka. Seketika Lintang mengelus dada, bukan karena telah menjadi bahan tertawaan maupun sorotan melainkan menahan rasa sakit yang mendera. Sesaat merasa tulang rusuknya patah.

Aneh, gadis itu tanpa ragu melanjutkan langkah, sembari tersenyum pada sahabat tercinta, tanpa sekalipun melihat para penyindir di samping kiri kanannya. Beberapa langkah selanjutnya, ia tertawa tak menyangka. Mengapa bisa hal memalukan menimpa? Wulan hanya tertawa dan melemparkan beberapa tanya. Dengan hati berbunga karena kejadian tak terduga mereka tertawa bersama, tentu dengan menggunakan tangan sebagai penutup mulut yang sedikit terbuka akibat tawa.

Kantong berisi barang idaman sudah di tangan, pun makanan yang diinginkan. Dalam perjalanan pulang, Lintang meminta Wulan menggandeng tangannya-mengantisipasi kejadian serupa kembali menimpa. Satu pesan sahabatnya yang tak akan Lintang lupa kecuali atas kehendak-Nya ….


“Memang baik jalan menundukkan pandangan mata, tapi pikirannya itu loh jangan kemana-mana ….”

Malang, 10 Januari 2015

*JRS



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengasah Pisau Ilmu

Kata bapak (Kanjeng Papih) tidak semua orang bisa mengasah pisau. Terbukti, di rumah tidak setiap anggotanya pandai melakukan. Hanya bapa...