Seperti malam-malam sebelumnya,
Lintang keluar rumah, membeli makanan dengan seorang sahabat bernama Wulan.
Khusus malam ini ia tak hanya membeli makanan, melainkan hendak membeli rok
idaman yang telah terpajang di etalase toko seberang jalan. Ia mengenakan
kerudung berwarna hijau tua, jaket merah muda, dan rok biru tua- mencolok. Setelah
menuruni tangga penghubung antara lantai dua dengan lantai pertama mereka
berjalan beriringan, menundukkan pandangan menuju ATM di dekat Universitas
Islam Negeri yang terdapat di kotanya untuk mengambil rupiah.
Lintang berjalan sembari memainkan
kunci rumah seperti biasa. Entah apa yang sedang mengganjal dalam benaknya, Lintang
menabrak kerangka baliho yang terbuat dari besi tepat di depan mini market
samping rumah kos tercinta. Dia sama sekali tak menyangka, baru sadar ketika
rasa sakit mendera dan gelak tawa orang di sekelilingnya pecah, cukup ramai
maklum saja Sabtu malam muda-mudi banyak memanfaatkan waktu untuk bersama
teman-teman tercinta mereka. Seketika Lintang mengelus dada, bukan karena telah
menjadi bahan tertawaan maupun sorotan melainkan menahan rasa sakit yang
mendera. Sesaat merasa tulang rusuknya patah.
Aneh, gadis itu tanpa ragu
melanjutkan langkah, sembari tersenyum pada sahabat tercinta, tanpa sekalipun
melihat para penyindir di samping kiri kanannya. Beberapa langkah selanjutnya,
ia tertawa tak menyangka. Mengapa bisa hal memalukan menimpa? Wulan hanya
tertawa dan melemparkan beberapa tanya. Dengan hati berbunga karena kejadian
tak terduga mereka tertawa bersama, tentu dengan menggunakan tangan sebagai
penutup mulut yang sedikit terbuka akibat tawa.
Kantong berisi barang idaman sudah
di tangan, pun makanan yang diinginkan. Dalam perjalanan pulang, Lintang
meminta Wulan menggandeng tangannya-mengantisipasi kejadian serupa kembali
menimpa. Satu pesan sahabatnya yang tak akan Lintang lupa kecuali atas
kehendak-Nya ….
“Memang baik jalan menundukkan
pandangan mata, tapi pikirannya itu loh jangan kemana-mana ….”
Malang, 10 Januari 2015
*JRS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar