9 Januari 2015

Bapak!

Dering ponselku berbunyi dengan lembut. Satu kata indah tersurat di tengah layar …

“Bapak”

Dengan sigap tanganku meraih ponsel berwarna serupa arang yang tergeletak di atas ranjang. Tak rela beliau menunggu terlalu lama untuk sekedar bersua suara dengan salah satu anak terkasihnya ini.

“Assalamualaikum, Pak,” jawabku spontan seperti sebelum-sebelumnya. Dari seberang sana jelas terdengar hembusan angin kampung dekat Gunung Semeru-Gunung tertinggi di pulau Jawa. Hembusan yang selalu kurindukan.

“Waalaikumsalam Nduk, lapo sampean? Wes maem?” Cecar Bapak dengan suara merdunya. Seketika bayang tampan wajah beliau menghampiri, lengkap dengan beberapa kerut di kedua sudut mata.

 “Niki mendel, Pak …, sampun, njenengan pun dahar?” Jawaban umum yang selalu aku berikan, tentu saja tanpa rasa  malas mengiring ataupun kebohongan.

“Uwes, Nduk! Sampean ojo telat maem loh!” Kelegaan jelas tersirat dalam nada suara Bapak. Aku bisa membayangkan betapa khawatirnya beliau jikalau aku menjawab belum. Takut jika kekebalan tubuhku menurun. Jangan telat makan! Pesan itu selalu terucap setiap kita bersua, baik melalui alat perantara, maupun bertatap muka. Aku harus ingat dan jalankan jika tak ingin membuatnya gelisah!

“Nggih … Njenengan mpun sakit-sakit Pak. Istirahat!” Bapak memang memiliki penyakit jantung koroner dan darah tinggi semenjak 14 tahun lalu. Alhamdulillah! Saat ini beliau masih bisa membersamai aku, ibu, dan kakakku. Menyaksikan kami anaknya semakin tinggi menyaingi.

“Iyo, yowes lek ngunu. Assalamualaikum.”

“Nggih Pak, waalaikumsalam.”

Percakapan yang tak pernah terlewat antara aku dan Bapak. Sederhana, tak banyak pengucapan kata, tapi aku bisa menangkap jelas kasih sayang, perhatian, dan kelegaan beliau mendengar jawabku. Membahagiakannya tak butuh berjuta rupiah, tak harus dengan memberi mobil mewah. Apalah artinya itu, jika secuil perhatian dan melakukan apa yang beliau inginkan pun tak bisa? Toh itu demi kebaikanku. Ibu selalu berkata kepadaku …,

“Sampean kan pasti dadi wong sukses, Nduk! Wong tuwo iku ga butuh duik e sampean. Sing dijaluk wong tuwo teko sampean iku sampean tetep manut, hormat nang Bapak karo Ibuk”


Malang, 07 Januari 2015


*JRS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengasah Pisau Ilmu

Kata bapak (Kanjeng Papih) tidak semua orang bisa mengasah pisau. Terbukti, di rumah tidak setiap anggotanya pandai melakukan. Hanya bapa...