Dering ponselku berbunyi dengan
lembut. Satu kata indah tersurat di tengah layar …
“Bapak”
Dengan sigap tanganku meraih ponsel
berwarna serupa arang yang tergeletak di atas ranjang. Tak rela beliau menunggu
terlalu lama untuk sekedar bersua suara dengan salah satu anak terkasihnya ini.
“Assalamualaikum, Pak,” jawabku
spontan seperti sebelum-sebelumnya. Dari seberang sana jelas terdengar hembusan
angin kampung dekat Gunung Semeru-Gunung tertinggi di pulau Jawa. Hembusan yang
selalu kurindukan.
“Waalaikumsalam Nduk, lapo sampean?
Wes maem?” Cecar Bapak dengan suara merdunya. Seketika bayang tampan wajah beliau
menghampiri, lengkap dengan beberapa kerut di kedua sudut mata.
“Niki mendel, Pak …, sampun, njenengan pun
dahar?” Jawaban umum yang selalu aku berikan, tentu saja tanpa rasa malas mengiring ataupun kebohongan.
“Uwes, Nduk! Sampean ojo telat maem
loh!” Kelegaan jelas tersirat dalam nada suara Bapak. Aku bisa membayangkan
betapa khawatirnya beliau jikalau aku menjawab belum. Takut jika kekebalan
tubuhku menurun. Jangan telat makan! Pesan itu selalu terucap setiap kita
bersua, baik melalui alat perantara, maupun bertatap muka. Aku harus ingat dan
jalankan jika tak ingin membuatnya gelisah!
“Nggih … Njenengan mpun sakit-sakit
Pak. Istirahat!” Bapak memang memiliki penyakit jantung koroner dan darah
tinggi semenjak 14 tahun lalu. Alhamdulillah! Saat ini beliau masih bisa
membersamai aku, ibu, dan kakakku. Menyaksikan kami anaknya semakin tinggi
menyaingi.
“Iyo, yowes lek ngunu.
Assalamualaikum.”
“Nggih Pak, waalaikumsalam.”
Percakapan yang tak pernah terlewat
antara aku dan Bapak. Sederhana, tak banyak pengucapan kata, tapi aku bisa
menangkap jelas kasih sayang, perhatian, dan kelegaan beliau mendengar jawabku.
Membahagiakannya tak butuh berjuta rupiah, tak harus dengan memberi mobil
mewah. Apalah artinya itu, jika secuil perhatian dan melakukan apa yang beliau
inginkan pun tak bisa? Toh itu demi kebaikanku. Ibu selalu berkata kepadaku …,
“Sampean kan pasti dadi wong sukses, Nduk! Wong tuwo iku ga butuh duik e sampean. Sing dijaluk wong tuwo teko sampean
iku sampean tetep manut, hormat nang Bapak karo Ibuk”
Malang, 07 Januari 2015
*JRS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar